Senin, 28 Januari 2013

persepsi sakit

BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
          Persepsi masyarakat tentang kriteria tubuh sehat atau sakit, sifatnya tidaklah selalu obyektif. Bahkan lebih banyak unsur subjektif dalam menentukan kondisi tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat/sakit ini sangatlah di pengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsure sosial budaya.
          Secara ilmiah penyakit di artikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat objektif. Sebaliknya sakit adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit fenomena subjektif ini di tandai dengan perasaan tidak enak. Selama sesorang masih mampu melaksanakan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih di katakan sehat. Batasan ‘sehat’ yang di berikan oleh organisasi kesehatan se-dunia “(WHO)” adalah “ a state of complete physical, mental and social wellbeing ” ( WHO, 1981:38 ). Dari batasan ini jelas terlihat bahwa sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan social seseorang.
Dinegara-negara seperti Indonesia masih ada satu tahap lagi yang di lewati banyak penderita sebelum mereka datang ke petugas kesehatan, yaitu pergi berobat ke dukun atau ahli-ahli pengobatan tradisional lainnya ( Jordaan.1985 ; Sarwono.1992 ; Slamet-Velsink.1992 ). Dengan demikian makin parahlah keadaan penderita jika akhirnya meminta pertolongan seorang dokter, oleh sebab itu petugas kesehatan perlu menyelidiki persepsi tersebut sampai berkembang sedemikian rupa dan setelah itu mengusahakan mengubah persepsi tersebut agar mendekati konsep yang lebih objektif. Dengan cara ini maka penggunaan sarana kesehatan diharapkan dapat lebih di tingkatkan.





B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Apa pengertian penyakit dan sakit
b.      Apa saja elemen-elemen pkok perilaku sakit
c.       Apa saja peran orang sakit
d.      Apa hak-hak orang sakit
e.       Apa kewajiban orang sakit

C.    TUJUAN
a.       Untuk mengetahui pengertian penyakit dan sakit
b.      Untuk mengetahui elemen-elemen pokok perilaku sakit
c.       Untuk mengetahui peran orang sakit
d.      Untuk mengetahui hak-hak orang sakit
e.       Untuk mengetahui kewajiban orang sakit












BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan, sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri (personal hygiene), penjagaan kebugaran melalui olahraga dan makanan bergizi
Persepsi merupakan perlakuan yang melibatkan penafsiran melalui proses pemikiran tentang apa yang dilihat, dengar, alami atau dibaca, sehingga persepsi sering mempengaruhi  tingkah laku, percakapan serta perasaan seseorang. Persepsi yang positif akan mempengaruhi rasa puas seseorang dalam bentuk sikap dan perilakunya terhadap pelayanan kesehatan, begitu juga sebaliknya persepsi negatif akan ditunjukkan melalui kinerjanya (Tjiptono, 2000).

Winardi (2001) mengemukakan persepsi merupakan proses yang bermanfaat sebagai filter dan metode untuk mengorganisasikan stimulus, yang memungkinkan kita menghadapi lingkungan kita. Proses persepsi menyediakan mekanisme melalui stimulus yang diseleksi dan dikelompokkan dalam wujud yang berarti, yang hampir bersifat otomatik dan bekerja dengan cara yang sama pada masing-masing individu, sehingga secara tipikal menghasilkan persepsi-persepsi yang berbeda-beda.

Sedangkan prilaku Dilihat dari aspek biologisnya, perilaku merupakan sesuatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Pada hakikatnya kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) mempunyai bentangan yang sangat luas, seperti : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, membaca, menulis, dan sebagainya. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup berperilaku karena mereka mempunyai aktivitas masingmasing. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).
Penyakit (disease) adalah suatu bentuk reaksi biologis terhadap suatu organism,benda asing atau luka(injury).Hal ini adalah suatu fonema yang objektif yang ditandai oleh perubahan fungsi-fungsi tubuh sebagai organism biologis.Sedangkan sakit(illnes) adalah penilaian seseorang terhadap penyakit sehubungan dengan pengelaman yang langsung dialaminya. Hal ini merupakan fenomena subjektif yang di tandai dengan perasaan tidak enak (feeling unwell).
Dari batasan kedua pengertian atau istilah yang berbeda tersebut,tampak adanya perbedaan konsep sehat-sakit yang kemudian akan menimbulkan permasalahan konsep sehat-sakit di dalam masyarakat.Secara objektif seseorang terkena penyakit,salah satu organ tubuhny terganggu fungsinya namun, dia tidakmerasa sakit. Atau sebaliknya,seseorang merasa sakit bila merasakan sesuatu di dalam tubuhnya, tetapi dari pemeriksaan klinis tidak diperoleh bukti bahwa ia sakit

1.        Teori perilaku sakit Mechanics

Mechanics melakukan pendekatan social untuk mempelejari perilaku sakit. Pendekatan ini di hubungkan dengan teori konsep diri, definisi situasi, efek dari anggota grup dalam keehatan dan efek birokrasi.
Teori ini menekankan pada 2 faktor:
a)      Pesepsi atau define oleh individu pada suatu situasi.
b)      Kemampuan individu melawan keadaan yang berat.

Faktor ini digunakan untuk menjelaskan tentang sakit dan cara untuk mengatasinya, tetapi orang lain dengan kondisi yang lebih ringan justru mengalami kesulitan sosial dan psiokologis.
Mechanics menjelaskan variasi-variasi dalam perilaku sakit, yaitu perilaku yang berhubungan dengan kondisi yang menyebabkan seseorang menaruh perhatian terhadap gejala-gejala oada dirinya kemudian mencari pertolongan.
Menurutnya banyak factor atau variable yang menyebabkan seseorang bereaksi terhadap sakit, yatu:
1.    Dapat dilihat, dapat dikenali atau dirasakan menonjol dari gejala dan tanda-tanda yang menyimpang.
2.    Banyaknya gejala-gejala yang di anggap serius (perkiraan kemungkinan bahaya).
3.    Banyaknya gejala yang menyebabkan putusnya hubungan keluarga , pekerjaan dan aktifitas yang lain.
4.     Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak, persistensinya dan frekuensi yang timbulnya.
5.    Nilai ambang dari mereka yang terkena.
6.    Informasi, pengetahuan, dan asumsibudaya, dan pengertian-pengertian dari yang menilai.
7.    Kebutuhan dasar (basic need) yang menyebabkan perilaku.
8.    Kebutuhan yang bersaing dengan merespons sakit.
9.    Perbedaan interprestasi yang mungkin terhadap gejala yang di kenalnya.
10.     Tersedianya sumber daya , kedekatan fisik, biaya (juga biaya dalam soial-ekonomi,jarak sosial) dan sebagainya.
Hal yang penting dalam suatu analisis perilaku sakit adalah pola reaksi sosio-kultural yang dipelajari suatu saat ketika individu dihadapkan kepada gejala penyakit sehinga gejala-gejala itu akan dikenal, dinilai, ditimbang, kemudian bereaksi atau tidak tergantung atas defenisi individu atas situasi itu. Definisi terhadap definisi itu ditentukan oleh warisan social.
2.        Tujuan Mempelejari Perilaku Sakit
Di dalam mempelejari perilaku sakit, ada dua tujuan yang ingin di capai, yaitu:
a)      Agar dapat menjelaskan perilaku sakit seseorang maka harus dimengerti factor-faktor fisik, social, dan mental yang menghasilkan kondisi sakit.
b)      Menentukan factor yanr bertanggung jawab terhadap variasi penerimaan gejala penyakit yang mengikuti gajala-gejala ini dengan sakitnya dan reaksi terhadap penyakit.
Dalam uraian selanjutnya ia hanya membahas etiologi perilaku sakit.
Menurutnya banyak factor atau variable yang menyebabkan seseorang bereaksi terhadap sakit, yatu:
Ø  Dapat dilihat, dapat dikenali atau dirasakan menonjol dari gejala dan tanda-tanda yang menyimpang.
Ø  Banyaknya gejala-gejala yang di anggap serius (perkiraan kemungkinan bahaya).
Ø  Banyaknya gejala yang menyebabkan putusnya hubungan keluarga , pekerjaan dan aktifitas yang lain.

Ø  Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak, persistensinya dan frekuensi yang timbulnya.
Ø  Nilai ambang dari mereka yang terkena.
Ø  Informasi, pengetahuan, dan asumsibudaya , dan pengertian-pengertian dari yang menilai.
Ø  Kebutuhan dasar (basic need) yang menyebabkan perilaku.
Ø  Kebutuhan yang bersaing dengan merespons sakit.
Ø  Perbedaan interprestasi yang mungkin terhadap gejala yang di kenalnya.
Ø  Tersedianya sumber daya , kedekatan fisik, biaya (juga biaya dalam soial-ekonomi,jarak sosial) dan sebagainya.


Di samping 10 variabel tersebut, mechanics membahas adanya dua tingkat anlisis yang dipengaruhi oleh 10 variabel tersebut.

a)      Tingkat pertama
            Batasan dari orang lain yang merefrensikan kepada proses dimana orang lain selain si sakit mengenal gejala sakit individu dan mengatakan bahwa orang tersebut sakit dan perlu perawatan.
b)      Tingkat kedua
            Batasan sendiri, mengenal gejala penyakitnya dan menentukan pencarian pertolongan sendiri . Menurut mechanics, analisis dengan orang-orang di luar dirinya, yaitu dengnan orang lain, cenderung menantang definisi bahwa orang lain berusaha memaksa dirinya dan menyebabkan perlunya dorongan untuk mencari pengobotan.
            Hal yang penting dalam suatu analisis perilaku sakit adalah pola reaksi sosio-kultural yang dipelajari suatu saat ketika individu dihadapkan kepada gejala penyakit sehinga gejala-gejala itu akan dikenal, dinilai, ditimbang, kemudian bereaksi atau tidak tergantung atas defenisi individu atas situasi itu. Definisi terhadap definisi itu ditentukan oleh warisan social.
3.         Kelemahan teori mechanics
Kelemahan dari teori ini adalah bahwa meskipun teori mechanics telah mengembangkan scope perilaku sakit, termasuk individu yang sakit, tetapi tidak mencari pengobatan, dan mengidentifikasikan sepuluh factor pengambilan keputusan dalam proses mencari pertolongan. Teori ini perlu kejelasan dan pengujian lebih lanjut. Kelemahan-kelemahan lain teori ini diantaranya sebagai berikut:
a)      Tentang nature/atau sifat dari ketergantungan antara 10 variabel belum dispesifikasikan. Mendektesi bagaimana keputusan individu saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya adalah penting untuk mengetahui perilaku sakit.
b)      Teori umum ini belum di uji secra keseluruhan sehingga hasilnya tidak mungkin dijajaki validitas empirisnya meskipunkelihatannya memang beralasan.
c)      Meskipun teori mencari pengobatan telah dikembangkan tetapi belum dapat diterapkan pada perilaku sehat, terutama pada segi pencegahan. Tetapi dengan sedikit modifikasi dapat di terapkan.
d)     Terkonsentrasi kepada proses pembuatan keputusan untuk mencari atau tidak mencari penggobatan tetapi tidak terhadap proses kontak pertama individu dengan petugas.
B.     Elemen-Elemen Pokok Perilaku Sehat
a.      Empat Elemen yang Merpakan Komponen Dasar dalam Perilaku Sakit
a)      Content (isi)
b)      Sequence (urutan-urutannya)
c)       Spacing (jarak)
d)      Variability (variabilitas) perilaku sakit.

b.      Lima Konsep Analisis Perilaku Sakit
Dari ke-4 elemen tersebut dapat dikembangkan 5 konsep yang berguna untuk analisis perilaku sakit.
v  Shoping atau proses mencari beberapa sumber yang berbeda dari medical care untuk suatu persoalan atau yang lain, meskipun tujuannya adalah untuk mencari dokter yang akan mendiagnosis dan mengobati yang sesuai dengan harapan.
v  Fragmentation atau proses pengobatan oleh beberapa fasilitas kesehatan pada lokasi yang sama.
v  Procrastination atau proses penundaan pencarian pengobatan sewaktu gejala dirasakan.
v  Self medication atau mengobati sendiri dengan bebagai ramuan atau membelinya di warung obat.
v  Discontinuity atau proses tidak melanjutkan (menghentikan) pengibatan.

c.       Tahap-Tahap Pembuatan Keputusan
                      Selanjutnya untuk menganalisis bagaimana proses seseorang di dalam membuat keputusan sehubungan dengan pencarian atau pemecahan masalah perawatan kesehatannya, sucham membaginya kedalam 5 tahap kejadian.
Suchman dalam Notoatmodjo (2007) membagi 5 tahap kejadian yang  menganalisa bagaimana proses seseorang di dalam membuat keputusan sehubungan dengan pencarian atau pemecahan masalah perawatan kesehatannya yaitu :
1.      Tahap pengalaman/pengenalan gejala (The symptom experience)
Pada tahap ini individu membuat keputusan bahwa di dalam dirinya ada suatu gejala penyakit, yang didasarkan pada adanya rasa ketidakenakan pada badannya, yang dirasakan sebagai ancaman bagi hidupnya.
2.      Tahap asumsi peran sakit (The assumption of sick role)
Pada tahap ini individu membuat keputusan bahwa ia sakit dan memerlukan pengobatan, ia mencari informasi dan pengakuan dari anggota keluarga lain, tetangga atau rekan kerja.
3.       Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan (The medical care contact)
Pada tahap ini individu mulai berhubungan dengan fasilitas/pelayanan kesehatan, sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, informasi yang ada pada dirinya tentang jenis-jenis pelayanan kesehatan.


4.       Tahap ketergantungan pasien (The dependent patient stage)
Pada tahap ini individu memutuskan bahwa dirinya, karena perbuatannya sebagai pasien, maka untuk kembali sehat harus tergantung dan pasrah kepada fasilitas pengobatan.

5.      Tahap penyembuhan atau rehabilitasi (The recovery of rehabilitation)
Pada tahap ini pasien atau individu memutuskan untuk melepaskan diri dari peran pasien. Ini ada 2 kemungkinan yaitu : pertama karena ia pulih kembali sebelum sakit, dan kedua karena ia menjadi cacat.
          Kelima tahap kejadian tersebut sekaligus merupakan isi dan urut-urutan dari perilaku sakit. Tetapi kenyataanya mungkin berbeda, artinya kelima tahap ini tidak selalu ada pada semua penyakit.
d.      Menjelaskan Kesehatan dan  Penyakit
          Menurut Twoddle, apa yang sehat bagi seseorang bias saja tidak sehat bagi orang lain. Ada dua hal yang timbul dari usaha untuk menjelaskan kesehatan dan atau penyakit, yaitu:
a)      Karena terpaksa membicarakan kesehatan normal dengan kesehatan sempurna,kesehatan lebih di kenal sebagai norma social.
b)      Definisi kesehatan dilihat dari social lebih khas dari pada bila di lihat dari sudut biologis.
Dari kriteria biologis, yang terpenting letaknya pada dua ujung ekstrem, yaitu kesehatan sempurna dan kematian. Menurut Twoddle dan Kassler (1977) defines kesehatan terutama harus dilihat dari segi social dari pada segi biologis.
Dari kriteria biologis, yang terpenting letaknya pada dua ujung ekstrem, yaitu kesehatan sempurna dan kematian. Menurut Twoddle dan Kassler (1974) defenisi kesehatan terutama harus dilihat dari segi sosial dari pada segi biologis.
C.    Peranan Orang Sakit
               Orang yang berpenyakit (having a disease) dan orang yang sakit adalah dua hal yang berbeda. Berpenyakit adalh suatu kondisi patalogis yang objektif, sedangkan sakit adalah evaluasi atau persepsi individu terhadap konsep sehat-sakit.
               Dua orang atau ebih secara patalogis menderita suatu jenis penyakit yang sama. Bisa jadi orang kesatu merasa lebih sakit dari yang lain,dan bahkan orang orang yang satunya lagi tidak merasa sakit.
               Orang yang berpenyakit belum tentu akan mengakibatkan berubahnya peranan orang tersebut di dalam masyarakat. Sedangkan orang yang sakit akan menyebabakan perubahan peranannya di dalam masyarakat maupun di dalam lingkungan keluarga. Jelasnya, orang yang sakitmemasuki posisi baru, dan posisi baru ini menurut suatu peranan yang baru pula.
               Peranan baru orang sakit (pasien) harus mendapat pengakuan dan dukungan dari anggota masyarakat dan anggota keluarga yang sehat secara wajar. Sebab dengan sakitnya salah satu anggota keluarga atau anggota masyarakat maka aka nada lowongan posisi yang berarti juga mekanisme system di dalam keluarga atau masyarakat itu akan terganggu. Hal ini disebabkan salah satu anggota memegang peranan absen.untuk itu maka anggota – anggota keluarga/masyarakat harus dapat mengisi lowongan posisi tersebut yag berarti juga menggantikan peranan orang yang sedang sakit tersebut.
               Kadang – kadang peranan orang yang sakit tersebut demikian luasnya sehingga peran yang ditinggalkan tidak mungkin digantikan oleh satu orang saja. Hal ini mengingat pula orang yang mengantikan tersebut sudah mempunyai posisi dan perananny sendiri.
               Demikian seterusnya bahwa orang sakit sebagai anggota keluarga atau masyarakat akan mengakibatkan perubahan – perubahan posisi dan peranan – peranannya.
               Berbicara tentang peranan, maka ada dua hal yang saling berkaitan, yakni hak (rights) dan kewajiban (obligation). Demikian juga peranan orang sakit (pasien) akan menyangkut masalah hak dan kewajiban orang sakit tersebut sebagai anggota masyarakat.
D.     Hak – hak Orang Sakit
               Hak orang sakit yang pertama dan yang utama adalah bebas dari segala tanggung jawab sosial yang normal. Artinya, orang yang sedang sakit mempunyai hak untuk tidak melakukan pekerjaan sehari – hari yang biasa dilakukan. Hal ini boleh di tuntut, namun tidak mutlak. Maksudnya, tergantung dari tingkat keparahan atau tingkat persepsi dari penyakit tersebut. Apabila tingkat keparahannya masih rendah maka orang tersebut mungkin tidak perlu menuntut haknya. Dan seandainya mau menuntutnya harus secara penuh. Maksudnya, ia tetap berada dalam posisinya tetapi peranannya dikurangi, dalam arti volume dan frekuensi kerjanya dikurang.
               Tetapi bila tingkat keparahannya tinggi maka hak tersebut harus dituntutnya. Lebih – lebih apabila si sakit tersebut menderita penyakit menular. Hak untuk tidak memasuki posisi social dapat di tuntut olehnya sebab bila tidak akan berakibat ganda. Disatu pihak akan menambah keparahan derajat keparahan sisakit dan juga akan mengghasilkan hasil kerja yang tidak sempurna, dan di pihak lain massyrakat atau anggota-anggota masyarakat yang lain akan tertulari penyakitnya yang mungkin akan menimbulkan epidemi (out break ) yang berbahaya.
               Tuntutan kedua adalah kepada organisasi kerja ( tempat kerja ), dan yang ketiga adalah tuntutan hak sakit kepada organisasi-organisasi masyarakat di mana si sakit menduduki posisi dan menjalankan peran. Kedua tuntutan ini boleh langsung maupun melalui lembaga keluarga dan bahkan melalui lembaga pelayanan kesehatan seperti surat cuti dokter dan sebagainya.
               Hak yang kedua dari orang sakit adalah hak untuk menuntut ( mengklaim ), bantuan atau perawatan kepada orang lain. Di dalam masyarakat orang yang sedang sakit berada dalam posisi lemah, lebih-lebih bila sakitnya sudah berada pada derajat keparahan yang tinggi. Di pihak lain orag yang sakit dituntut kewajibannya untuk sembuh dan juga dituntut untuk segera kembali berperan di dalam system social. Dari situ ia berhak untuk dibantu dan di rawat agar cepat memperoleh kesembuhan.
               Di dalam hal ini anggota keluarga dan anggota masyarakat yang tidak sakit berkewajiban untuk membantu dan merawatnya. Oleh Karen tugas penyembuhan dan perawatan itu memerlukan suatu kemampuan dan ketrampilan khusus maka tugas ini didelegasikan kepada lembaga-lembaga masyarakat atau individu -individu tertentu, seperti dukun, dokter, perawat, bidan, dan petugas kesehatan yang lain.
E.     Kewajiban-kewajiban Orang sakit
               Di samping haknya yang dapat dituntut, orang yang sedang sakit juga mempunyai kewajiban yang harus di penuhi. Pertama, orang yang sedang sakit mempunyai kewajiban untuk sembuh dari penyakitnya. Memperoleh kesembuhan bukanlah hak penderita, tetapi kewajiban penderita. Mengapa? Karena manusia diberi kesempurnaan dan kesehatan oleh Tuhan. Secara alamiah manusia itu sehat. Adapun menjadi atau jadi jatuh sakit sebenarnya merupakan keselahan manusianya sendiri. Oleh karena itu, bila ia jatuh sakit maka ia berkewajiban unutk mengembalikan posisinya kedalam keadaan sehat.
               Seperti telah di uraikan di atas bahwa orang sakit itu lemah sehingga di dalam melakukan kewajibannya untuk sembuh memerlukan orang lain. Dalam hal ini si sakit dapat menjalankan kewajibannya mencari penyembuhan sendiri, atau minta bantuan orang lain.
               Apabila prinsip ini diterapkan d dalam masyarakat kewajiban tersebut ada di masyarakat. Para petugas kesehatan dalam usahanya ikut melibatkan masyarakat di dalam pelayanan kesehatan masyarakat, sebenarnya hanya sekedar membantu msyarakat tersebut dalam rangka menjalankan kewajibannya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.
               Seprti telah kita sepakati bersama bahwa masyarakat dalam pendekatan pelayanan kesehatan masyarakat sebagai subjek, dan juga consumer sekaligus sebagai provider, maka dalam konteks peranan sakit orang yang sakit juga sebagai anggota masyarakat dapat menuntut haknya sekaligus menjalankan kewajiban orang sakit. Jelasnya, memperoleh kesembuhan adalh hak dan kewajiban orang sakit.
               Kewajiban orang sakit untuk mencari pengakuan ini penting agar anggota masyarakat yang lain dapat menggantikan posisinya dan melakukan peranan-peranannya selama ia dalam keadaan sakit. Pengakuan ini misalnya dapat diwujudkan dengan pemberian cuti sakit atau izin tidak masuk kerja, baik secara formal maupun informal. Sedangkan pentingnya mencari nasihat dan kerja sama oleh orang sakit kepada anggota masyarakat lain adalah dalam rangka kewajibannya yang pertama, yakni agar memperoleh kesembuhan yang secepat mungkin.
Dari segi sosiologi, Suchman (1965) mencoba mengembangkan suatu skema, dan menulusuri proses pengembalian keeputusan seseorang di dalam menghadapi sakit melalui 5 fase.
               Dari skema tersebut kita lihat bahwa pada fase pertama, ketika gejala sakit mulai terasa, si penderita mencoba mengatasinya dengan obat atau cara-cara yang diketahuinya dari orang tuanya atau orang lain. Misalnya dengan kerokan bila merasa pusing, atau minum jamu bila merasa badan meriang, dan sebagainya. Apabila tidak sembuh maka ia mencari nasihat kepada orang-orang awam sekitarnya
Hal ini telah memasuki tahap kedua, tahap system pelayanan kesehatan keluarga atau berobat.
               Apabila belum sembuh juga, si penderita memutuskan bahwa ia menerima tahap ketiga, yakni memasuki golongan arang sakit, menerima peranan sebagai orang sakit. Ia kemudian mencari nasihat kepada pemberi pelayanan kesehatan professional, baik modern (dokter, mantra, dan sebagainya) maupun pelayanan kesehatan tradisional (dukun, sinshe, dan sebagainya). Jika tidak cocok maka ia beralih ke fasilitas-fasilitas yang lain.
               Tahap keempat perilaku penderita ini adalah menerima dan melakukan prosedur pengobatan, dan akhirnya kembali ke peran orang normal apabila ia sembuh dari penyakitnya (tahap kelima)
               Pengembaran suchman hanya memperhitungkan factor dari dalam diri di penderita saja, tidak memperhitungkan factor-faktor lain seperti sosio-budaya, ekonomi, umur, demografi, jenis kelamin, dan sebagainya.
















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Persepsi masyarakat tentang kriteria tubuh sehat atau sakit, sifatnya tidaklah selalu obyektif. Bahkan lebih banyak unsur subjektif dalam menentukan kondisi tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat/sakit ini sangatlah di pengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsure sosial budaya.
          Secara ilmiah penyakit di artikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat objektif. Sebaliknya sakit adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit fenomena subjektif ini di tandai dengan perasaan tidak enak. Selama sesorang masih mampu melaksanakan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih di katakan sehat.
 Dalam menentukan reaksi/tindakannya sehubungan dengan gejala penyakit yang dirasakannya, menurut Suchman individu berproses melalui tahap-tahap berikut ini :
a)     Tahap pengenalan gejala. Pada tahap ini individu memutuskan bahwa dirinya dalam keadaan sakit yang ditandai dengan rasa tidak enak dan keadaan itu dianggapnya dapat membahayakan dirinya.
b)     Tahap asumsi peranan sakit. Karena merasa sakit dan memerlukan pengobatan, individu mulai mencari pengakuan  dari kelompok acuannya (keluarga, tetangga, teman sekerja)tentang sakitnya itu dan kalau perlu meminta pembebasan dari pemenuhan tugas sehari-harinya.
c)     Tahap kpntak dengan pelayanan kesehatan. Disini individu mulai menghubungi sarana kesehatan sesuai dengan pengalamannya atau dari informasi yang diperoleh dari orang lain tentang tersedianya jenis-jenis pelayanan kesehatan.
d)     Tahap ketergantungan si sakit. Individu memutuskan bahwa dirinya, sebagai orang yang sakit dan ingin disembuhkan, harus menggantungkan diri dan pasrah kepada prosedur pengobatan. Dia harus mematuhi perintah orang yang akan menyembuhkannya agar kesembuhan itu cepat terca-pai.
e)     Tahap penyembuhan atau rahabilitasi. Pada tahap ini si sakit memutuskan untuk melepaskan diri dari peranan sebagai orang sakit. Hal ini terjadi karena dia sudah sehat kembali dan dapat berfungsi seperti sediakala.

B.     Saran
Kita sebagai anggota masyarakat harus mengubah persepsi kita tentang sehat dan sakit agar mendekati konsep yang lebih objektif dan menggunakan sarana kesehatan sesuai yang diharapkan.
























DAFTAR PUSTAKA
Ilmu keperawatan komunotas /sahid iqbal mubarak dan nurul cahyatin-jakarat:Salemba Medika,2011
Efendy, Nasrul.1998. dasar – dasar keperawata kesehatan masyarakat.Jakarta:EGC
Fitramaya yuni,2008 ilmu kesehatan .yogyakarta
Promosi kesehatan ,iqbal-iki.blogspot.com/2008


Tidak ada komentar:

Posting Komentar