BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Persepsi masyarakat tentang kriteria tubuh sehat atau sakit, sifatnya tidaklah
selalu obyektif. Bahkan lebih banyak unsur subjektif dalam menentukan kondisi
tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat/sakit ini sangatlah di
pengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsure sosial budaya.
Secara ilmiah penyakit di artikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu
organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi
penyakit itu bersifat objektif. Sebaliknya sakit adalah penilaian individu
terhadap pengalaman menderita suatu penyakit fenomena subjektif ini di tandai
dengan perasaan tidak enak. Selama sesorang masih mampu melaksanakan fungsinya
seperti biasa maka orang itu masih di katakan sehat. Batasan ‘sehat’ yang di
berikan oleh organisasi kesehatan se-dunia “(WHO)” adalah “ a state of complete
physical, mental and social wellbeing ” ( WHO, 1981:38 ). Dari batasan ini
jelas terlihat bahwa sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan
juga kondisi mental dan social seseorang.
Dinegara-negara
seperti Indonesia masih ada satu tahap lagi yang di lewati banyak penderita
sebelum mereka datang ke petugas kesehatan, yaitu pergi berobat ke dukun atau
ahli-ahli pengobatan tradisional lainnya ( Jordaan.1985 ; Sarwono.1992 ;
Slamet-Velsink.1992 ). Dengan demikian makin parahlah keadaan penderita jika
akhirnya meminta pertolongan seorang dokter, oleh sebab itu petugas kesehatan
perlu menyelidiki persepsi tersebut sampai berkembang sedemikian rupa dan
setelah itu mengusahakan mengubah persepsi tersebut agar mendekati konsep yang
lebih objektif. Dengan cara ini maka penggunaan sarana kesehatan diharapkan
dapat lebih di tingkatkan.
B.
RUMUSAN MASALAH
a.
Apa pengertian penyakit dan
sakit
b.
Apa saja elemen-elemen pkok
perilaku sakit
c.
Apa saja peran orang sakit
d.
Apa hak-hak orang sakit
e.
Apa kewajiban orang sakit
C.
TUJUAN
a.
Untuk mengetahui pengertian
penyakit dan sakit
b.
Untuk mengetahui elemen-elemen
pokok perilaku sakit
c.
Untuk mengetahui peran orang
sakit
d.
Untuk mengetahui hak-hak orang
sakit
e.
Untuk mengetahui kewajiban
orang sakit
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Perilaku sakit diartikan sebagai
segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar
memperoleh kesembuhan, sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan
individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit,
perawatan kebersihan diri (personal hygiene), penjagaan kebugaran
melalui olahraga dan makanan bergizi
Persepsi merupakan perlakuan yang melibatkan penafsiran
melalui proses pemikiran tentang apa yang dilihat, dengar, alami atau dibaca,
sehingga persepsi sering mempengaruhi
tingkah laku, percakapan serta perasaan seseorang. Persepsi yang positif
akan mempengaruhi rasa puas seseorang dalam bentuk sikap dan perilakunya
terhadap pelayanan kesehatan, begitu juga sebaliknya persepsi negatif akan
ditunjukkan melalui kinerjanya (Tjiptono, 2000).
Winardi (2001) mengemukakan persepsi merupakan proses
yang bermanfaat sebagai filter dan metode untuk mengorganisasikan stimulus,
yang memungkinkan kita menghadapi lingkungan kita. Proses persepsi menyediakan
mekanisme melalui stimulus yang diseleksi dan dikelompokkan dalam wujud yang
berarti, yang hampir bersifat otomatik dan bekerja dengan cara yang sama pada
masing-masing individu, sehingga secara tipikal menghasilkan persepsi-persepsi
yang berbeda-beda.
Sedangkan prilaku Dilihat dari aspek biologisnya,
perilaku merupakan sesuatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup)
yang bersangkutan. Pada hakikatnya kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup)
mempunyai bentangan yang sangat luas, seperti : berjalan, berbicara, menangis,
tertawa, bekerja, kuliah, membaca, menulis, dan sebagainya. Oleh sebab itu,
dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup berperilaku karena mereka
mempunyai aktivitas masingmasing. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo,
2007).
Penyakit (disease)
adalah suatu bentuk reaksi biologis terhadap suatu organism,benda asing atau
luka(injury).Hal ini adalah suatu fonema yang objektif yang ditandai oleh
perubahan fungsi-fungsi tubuh sebagai organism biologis.Sedangkan sakit(illnes)
adalah penilaian seseorang terhadap penyakit sehubungan dengan pengelaman yang
langsung dialaminya. Hal ini merupakan fenomena subjektif yang di tandai dengan
perasaan tidak enak (feeling unwell).
Dari batasan kedua
pengertian atau istilah yang berbeda tersebut,tampak adanya perbedaan konsep
sehat-sakit yang kemudian akan menimbulkan permasalahan konsep sehat-sakit di
dalam masyarakat.Secara objektif seseorang terkena penyakit,salah satu organ
tubuhny terganggu fungsinya namun, dia tidakmerasa sakit. Atau
sebaliknya,seseorang merasa sakit bila merasakan sesuatu di dalam tubuhnya,
tetapi dari pemeriksaan klinis tidak diperoleh bukti bahwa ia sakit
1. Teori perilaku sakit Mechanics
Mechanics melakukan pendekatan social untuk mempelejari perilaku
sakit. Pendekatan ini di hubungkan dengan teori konsep diri, definisi situasi,
efek dari anggota grup dalam keehatan dan efek birokrasi.
Teori ini
menekankan pada 2 faktor:
a) Pesepsi atau define oleh individu pada
suatu situasi.
b) Kemampuan individu melawan keadaan yang
berat.
Faktor ini
digunakan untuk menjelaskan tentang sakit dan cara untuk mengatasinya, tetapi
orang lain dengan kondisi yang lebih ringan justru mengalami kesulitan sosial
dan psiokologis.
Mechanics menjelaskan variasi-variasi dalam perilaku sakit, yaitu
perilaku yang berhubungan dengan kondisi yang menyebabkan seseorang menaruh
perhatian terhadap gejala-gejala oada dirinya kemudian mencari pertolongan.
Menurutnya banyak factor atau variable yang menyebabkan
seseorang bereaksi terhadap sakit, yatu:
1. Dapat dilihat, dapat dikenali atau
dirasakan menonjol dari gejala dan tanda-tanda yang menyimpang.
2. Banyaknya gejala-gejala yang di anggap
serius (perkiraan kemungkinan bahaya).
3. Banyaknya gejala yang menyebabkan putusnya
hubungan keluarga , pekerjaan dan aktifitas yang lain.
4. Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang
tampak, persistensinya dan frekuensi yang timbulnya.
5. Nilai ambang dari mereka yang terkena.
6. Informasi, pengetahuan, dan asumsibudaya,
dan pengertian-pengertian dari yang menilai.
7. Kebutuhan dasar (basic need) yang
menyebabkan perilaku.
8. Kebutuhan yang bersaing dengan merespons
sakit.
9. Perbedaan interprestasi yang mungkin
terhadap gejala yang di kenalnya.
10. Tersedianya sumber daya , kedekatan fisik,
biaya (juga biaya dalam soial-ekonomi,jarak sosial) dan sebagainya.
Hal yang
penting dalam suatu analisis perilaku sakit adalah pola reaksi sosio-kultural
yang dipelajari suatu saat ketika individu dihadapkan kepada gejala penyakit
sehinga gejala-gejala itu akan dikenal, dinilai, ditimbang, kemudian bereaksi
atau tidak tergantung atas defenisi individu atas situasi itu. Definisi
terhadap definisi itu ditentukan oleh warisan social.
2.
Tujuan Mempelejari Perilaku Sakit
Di dalam
mempelejari perilaku sakit, ada dua tujuan yang ingin di capai, yaitu:
a)
Agar dapat menjelaskan perilaku
sakit seseorang maka harus dimengerti factor-faktor fisik, social, dan mental
yang menghasilkan kondisi sakit.
b)
Menentukan factor yanr bertanggung
jawab terhadap variasi penerimaan gejala penyakit yang mengikuti gajala-gejala
ini dengan sakitnya dan reaksi terhadap penyakit.
Dalam uraian
selanjutnya ia hanya membahas etiologi perilaku sakit.
Menurutnya
banyak factor atau variable yang menyebabkan seseorang bereaksi terhadap sakit,
yatu:
Ø Dapat
dilihat, dapat dikenali atau dirasakan menonjol dari gejala dan tanda-tanda
yang menyimpang.
Ø Banyaknya
gejala-gejala yang di anggap serius (perkiraan kemungkinan bahaya).
Ø Banyaknya
gejala yang menyebabkan putusnya hubungan keluarga , pekerjaan dan aktifitas
yang lain.
Ø Frekuensi
dari gejala dan tanda-tanda yang tampak, persistensinya dan frekuensi yang
timbulnya.
Ø Nilai ambang
dari mereka yang terkena.
Ø Informasi,
pengetahuan, dan asumsibudaya , dan pengertian-pengertian dari yang menilai.
Ø Kebutuhan
dasar (basic need) yang menyebabkan perilaku.
Ø Kebutuhan
yang bersaing dengan merespons sakit.
Ø Perbedaan
interprestasi yang mungkin terhadap gejala yang di kenalnya.
Ø Tersedianya
sumber daya , kedekatan fisik, biaya (juga biaya dalam soial-ekonomi,jarak
sosial) dan sebagainya.
Di samping
10 variabel tersebut, mechanics membahas adanya dua tingkat anlisis yang
dipengaruhi oleh 10 variabel tersebut.
a)
Tingkat pertama
Batasan dari
orang lain yang merefrensikan kepada proses dimana orang lain selain si sakit
mengenal gejala sakit individu dan mengatakan bahwa orang tersebut sakit dan
perlu perawatan.
b)
Tingkat kedua
Batasan
sendiri, mengenal gejala penyakitnya dan menentukan pencarian pertolongan
sendiri . Menurut mechanics, analisis dengan orang-orang di luar dirinya, yaitu
dengnan orang lain, cenderung menantang definisi bahwa orang lain berusaha
memaksa dirinya dan menyebabkan perlunya dorongan untuk mencari pengobotan.
Hal yang
penting dalam suatu analisis perilaku sakit adalah pola reaksi sosio-kultural
yang dipelajari suatu saat ketika individu dihadapkan kepada gejala penyakit
sehinga gejala-gejala itu akan dikenal, dinilai, ditimbang, kemudian bereaksi
atau tidak tergantung atas defenisi individu atas situasi itu. Definisi
terhadap definisi itu ditentukan oleh warisan social.
3.
Kelemahan teori mechanics
Kelemahan
dari teori ini adalah bahwa meskipun teori mechanics telah mengembangkan scope
perilaku sakit, termasuk individu yang sakit, tetapi tidak mencari pengobatan,
dan mengidentifikasikan sepuluh factor pengambilan keputusan dalam proses
mencari pertolongan. Teori ini perlu kejelasan dan pengujian lebih lanjut.
Kelemahan-kelemahan lain teori ini diantaranya sebagai berikut:
a)
Tentang nature/atau sifat dari
ketergantungan antara 10 variabel belum dispesifikasikan. Mendektesi bagaimana
keputusan individu saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya adalah penting
untuk mengetahui perilaku sakit.
b)
Teori umum ini belum di uji secra
keseluruhan sehingga hasilnya tidak mungkin dijajaki validitas empirisnya
meskipunkelihatannya memang beralasan.
c)
Meskipun teori mencari pengobatan
telah dikembangkan tetapi belum dapat diterapkan pada perilaku sehat, terutama
pada segi pencegahan. Tetapi dengan sedikit modifikasi dapat di terapkan.
d)
Terkonsentrasi kepada proses
pembuatan keputusan untuk mencari atau tidak mencari penggobatan tetapi tidak
terhadap proses kontak pertama individu dengan petugas.
B.
Elemen-Elemen Pokok Perilaku Sehat
a. Empat Elemen yang Merpakan Komponen
Dasar dalam Perilaku Sakit
a)
Content (isi)
b)
Sequence (urutan-urutannya)
c)
Spacing (jarak)
d)
Variability (variabilitas) perilaku sakit.
b. Lima Konsep Analisis Perilaku Sakit
Dari ke-4
elemen tersebut dapat dikembangkan 5 konsep yang berguna untuk analisis
perilaku sakit.
v
Shoping atau proses mencari beberapa
sumber yang berbeda dari medical care untuk suatu persoalan atau yang lain,
meskipun tujuannya adalah untuk mencari dokter yang akan mendiagnosis dan
mengobati yang sesuai dengan harapan.
v
Fragmentation atau proses pengobatan
oleh beberapa fasilitas kesehatan pada lokasi yang sama.
v
Procrastination atau proses
penundaan pencarian pengobatan sewaktu gejala dirasakan.
v
Self medication atau mengobati
sendiri dengan bebagai ramuan atau membelinya di warung obat.
v
Discontinuity atau proses tidak
melanjutkan (menghentikan) pengibatan.
c. Tahap-Tahap Pembuatan Keputusan
Selanjutnya
untuk menganalisis bagaimana proses seseorang di dalam membuat keputusan
sehubungan dengan pencarian atau pemecahan masalah perawatan kesehatannya,
sucham membaginya kedalam 5 tahap kejadian.
Suchman dalam Notoatmodjo (2007)
membagi 5 tahap kejadian yang menganalisa bagaimana
proses seseorang di dalam membuat keputusan sehubungan dengan
pencarian atau pemecahan masalah perawatan kesehatannya yaitu :
1. Tahap
pengalaman/pengenalan gejala (The symptom experience)
Pada
tahap ini individu membuat keputusan bahwa di dalam dirinya ada suatu gejala
penyakit, yang didasarkan pada adanya rasa ketidakenakan pada badannya, yang
dirasakan sebagai ancaman bagi hidupnya.
2. Tahap
asumsi peran sakit (The assumption of sick role)
Pada tahap ini individu membuat
keputusan bahwa ia sakit dan memerlukan pengobatan, ia mencari informasi dan
pengakuan dari anggota keluarga lain, tetangga atau rekan kerja.
3. Tahap
kontak dengan pelayanan kesehatan (The medical care contact)
Pada tahap ini individu mulai
berhubungan dengan fasilitas/pelayanan kesehatan, sesuai dengan pengetahuan,
pengalaman, informasi yang ada pada dirinya tentang jenis-jenis pelayanan
kesehatan.
4. Tahap
ketergantungan pasien (The dependent patient stage)
Pada tahap ini individu memutuskan
bahwa dirinya, karena perbuatannya sebagai pasien, maka untuk kembali sehat
harus tergantung dan pasrah kepada fasilitas pengobatan.
5. Tahap
penyembuhan atau rehabilitasi (The recovery of rehabilitation)
Pada tahap ini pasien atau individu
memutuskan untuk melepaskan diri dari peran pasien. Ini ada 2 kemungkinan yaitu
: pertama karena ia pulih kembali sebelum sakit, dan kedua karena ia menjadi
cacat.
Kelima tahap
kejadian tersebut sekaligus merupakan isi dan urut-urutan dari perilaku sakit.
Tetapi kenyataanya mungkin berbeda, artinya kelima tahap ini tidak selalu ada
pada semua penyakit.
d. Menjelaskan Kesehatan dan Penyakit
Menurut
Twoddle, apa yang sehat bagi seseorang bias saja tidak sehat bagi orang lain.
Ada dua hal yang timbul dari usaha untuk menjelaskan kesehatan dan atau
penyakit, yaitu:
a)
Karena terpaksa membicarakan
kesehatan normal dengan kesehatan sempurna,kesehatan lebih di kenal sebagai
norma social.
b)
Definisi kesehatan dilihat dari
social lebih khas dari pada bila di lihat dari sudut biologis.
Dari
kriteria biologis, yang terpenting letaknya pada dua ujung ekstrem, yaitu
kesehatan sempurna dan kematian. Menurut Twoddle dan Kassler (1977) defines
kesehatan terutama harus dilihat dari segi social dari pada segi biologis.
Dari
kriteria biologis, yang terpenting letaknya pada dua ujung ekstrem, yaitu
kesehatan sempurna dan kematian. Menurut Twoddle dan Kassler (1974) defenisi
kesehatan terutama harus dilihat dari segi sosial dari pada segi biologis.
C.
Peranan Orang Sakit
Orang yang
berpenyakit (having a disease) dan orang yang sakit adalah dua hal yang
berbeda. Berpenyakit adalh suatu kondisi patalogis yang objektif, sedangkan
sakit adalah evaluasi atau persepsi individu terhadap konsep sehat-sakit.
Dua orang
atau ebih secara patalogis menderita suatu jenis penyakit yang sama. Bisa jadi
orang kesatu merasa lebih sakit dari yang lain,dan bahkan orang orang yang
satunya lagi tidak merasa sakit.
Orang yang
berpenyakit belum tentu akan mengakibatkan berubahnya peranan orang tersebut di
dalam masyarakat. Sedangkan orang yang sakit akan menyebabakan perubahan
peranannya di dalam masyarakat maupun di dalam lingkungan keluarga. Jelasnya,
orang yang sakitmemasuki posisi baru, dan posisi baru ini menurut suatu peranan
yang baru pula.
Peranan baru
orang sakit (pasien) harus mendapat pengakuan dan dukungan dari anggota
masyarakat dan anggota keluarga yang sehat secara wajar. Sebab dengan sakitnya
salah satu anggota keluarga atau anggota masyarakat maka aka nada lowongan
posisi yang berarti juga mekanisme system di dalam keluarga atau masyarakat itu
akan terganggu. Hal ini disebabkan salah satu anggota memegang peranan
absen.untuk itu maka anggota – anggota keluarga/masyarakat harus dapat mengisi
lowongan posisi tersebut yag berarti juga menggantikan peranan orang yang
sedang sakit tersebut.
Kadang –
kadang peranan orang yang sakit tersebut demikian luasnya sehingga peran yang
ditinggalkan tidak mungkin digantikan oleh satu orang saja. Hal ini mengingat
pula orang yang mengantikan tersebut sudah mempunyai posisi dan perananny
sendiri.
Demikian
seterusnya bahwa orang sakit sebagai anggota keluarga atau masyarakat akan
mengakibatkan perubahan – perubahan posisi dan peranan – peranannya.
Berbicara
tentang peranan, maka ada dua hal yang saling berkaitan, yakni hak (rights) dan
kewajiban (obligation). Demikian juga peranan orang sakit (pasien) akan
menyangkut masalah hak dan kewajiban orang sakit tersebut sebagai anggota
masyarakat.
D.
Hak – hak Orang Sakit
Hak orang
sakit yang pertama dan yang utama adalah bebas dari segala tanggung jawab
sosial yang normal. Artinya, orang yang sedang sakit mempunyai hak untuk tidak
melakukan pekerjaan sehari – hari yang biasa dilakukan. Hal ini boleh di
tuntut, namun tidak mutlak. Maksudnya, tergantung dari tingkat keparahan atau
tingkat persepsi dari penyakit tersebut. Apabila
tingkat keparahannya masih rendah maka orang tersebut mungkin tidak perlu
menuntut haknya. Dan seandainya mau menuntutnya harus secara penuh. Maksudnya,
ia tetap berada dalam posisinya tetapi peranannya dikurangi, dalam arti volume
dan frekuensi kerjanya dikurang.
Tetapi bila
tingkat keparahannya tinggi maka hak tersebut harus dituntutnya. Lebih – lebih
apabila si sakit tersebut menderita penyakit menular. Hak untuk tidak memasuki
posisi social dapat di tuntut olehnya sebab bila tidak akan berakibat ganda.
Disatu pihak akan menambah keparahan derajat keparahan sisakit dan juga akan
mengghasilkan hasil kerja yang tidak sempurna, dan di pihak lain massyrakat
atau anggota-anggota masyarakat yang lain akan tertulari penyakitnya yang
mungkin akan menimbulkan epidemi (out break ) yang berbahaya.
Tuntutan
kedua adalah kepada organisasi kerja ( tempat kerja ), dan yang ketiga adalah
tuntutan hak sakit kepada organisasi-organisasi masyarakat di mana si sakit
menduduki posisi dan menjalankan peran. Kedua tuntutan ini boleh langsung
maupun melalui lembaga keluarga dan bahkan melalui lembaga pelayanan kesehatan
seperti surat cuti dokter dan sebagainya.
Hak yang
kedua dari orang sakit adalah hak untuk menuntut ( mengklaim ), bantuan atau
perawatan kepada orang lain. Di dalam masyarakat orang yang sedang sakit berada
dalam posisi lemah, lebih-lebih bila sakitnya sudah berada pada derajat
keparahan yang tinggi. Di pihak lain orag yang sakit dituntut kewajibannya
untuk sembuh dan juga dituntut untuk segera kembali berperan di dalam system
social. Dari situ ia berhak untuk dibantu dan di rawat agar cepat memperoleh
kesembuhan.
Di dalam hal
ini anggota keluarga dan anggota masyarakat yang tidak sakit berkewajiban untuk
membantu dan merawatnya. Oleh Karen tugas penyembuhan dan perawatan itu
memerlukan suatu kemampuan dan ketrampilan khusus maka tugas ini didelegasikan
kepada lembaga-lembaga masyarakat atau individu -individu tertentu, seperti
dukun, dokter, perawat, bidan, dan petugas kesehatan yang lain.
E.
Kewajiban-kewajiban Orang sakit
Di samping
haknya yang dapat dituntut, orang yang sedang sakit juga mempunyai kewajiban
yang harus di penuhi. Pertama, orang yang sedang sakit mempunyai kewajiban
untuk sembuh dari penyakitnya. Memperoleh kesembuhan bukanlah hak penderita,
tetapi kewajiban penderita. Mengapa? Karena manusia diberi kesempurnaan dan kesehatan
oleh Tuhan. Secara alamiah manusia itu sehat. Adapun menjadi atau jadi jatuh
sakit sebenarnya merupakan keselahan manusianya sendiri. Oleh karena itu, bila
ia jatuh sakit maka ia berkewajiban unutk mengembalikan posisinya kedalam
keadaan sehat.
Seperti
telah di uraikan di atas bahwa orang sakit itu lemah sehingga di dalam
melakukan kewajibannya untuk sembuh memerlukan orang lain. Dalam hal ini si
sakit dapat menjalankan kewajibannya mencari penyembuhan sendiri, atau minta
bantuan orang lain.
Apabila
prinsip ini diterapkan d dalam masyarakat kewajiban tersebut ada di masyarakat.
Para petugas kesehatan dalam usahanya ikut melibatkan masyarakat di dalam
pelayanan kesehatan masyarakat, sebenarnya hanya sekedar membantu msyarakat
tersebut dalam rangka menjalankan kewajibannya untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka.
Seprti telah
kita sepakati bersama bahwa masyarakat dalam pendekatan pelayanan kesehatan
masyarakat sebagai subjek, dan juga consumer sekaligus sebagai provider, maka
dalam konteks peranan sakit orang yang sakit juga sebagai anggota masyarakat
dapat menuntut haknya sekaligus menjalankan kewajiban orang sakit. Jelasnya,
memperoleh kesembuhan adalh hak dan kewajiban orang sakit.
Kewajiban
orang sakit untuk mencari pengakuan ini penting agar anggota masyarakat yang
lain dapat menggantikan posisinya dan melakukan peranan-peranannya selama ia
dalam keadaan sakit. Pengakuan ini misalnya dapat diwujudkan dengan pemberian
cuti sakit atau izin tidak masuk kerja, baik secara formal maupun informal.
Sedangkan pentingnya mencari nasihat dan kerja sama oleh orang sakit kepada
anggota masyarakat lain adalah dalam rangka kewajibannya yang pertama, yakni
agar memperoleh kesembuhan yang secepat mungkin.
Dari segi
sosiologi, Suchman (1965) mencoba mengembangkan suatu skema, dan menulusuri
proses pengembalian keeputusan seseorang di dalam menghadapi sakit melalui 5
fase.
Dari skema
tersebut kita lihat bahwa pada fase pertama, ketika gejala sakit mulai
terasa, si penderita mencoba mengatasinya dengan obat atau cara-cara yang
diketahuinya dari orang tuanya atau orang lain. Misalnya dengan kerokan bila
merasa pusing, atau minum jamu bila merasa badan meriang, dan sebagainya.
Apabila tidak sembuh maka ia mencari nasihat kepada orang-orang awam sekitarnya
Hal ini
telah memasuki tahap kedua, tahap system pelayanan kesehatan keluarga
atau berobat.
Apabila
belum sembuh juga, si penderita memutuskan bahwa ia menerima tahap ketiga,
yakni memasuki golongan arang sakit, menerima peranan sebagai orang sakit. Ia
kemudian mencari nasihat kepada pemberi pelayanan kesehatan professional, baik
modern (dokter, mantra, dan sebagainya) maupun pelayanan kesehatan tradisional
(dukun, sinshe, dan sebagainya). Jika tidak cocok maka ia beralih ke
fasilitas-fasilitas yang lain.
Tahap keempat
perilaku penderita ini adalah menerima dan melakukan prosedur pengobatan,
dan akhirnya kembali ke peran orang normal apabila ia sembuh dari penyakitnya
(tahap kelima)
Pengembaran
suchman hanya memperhitungkan factor dari dalam diri di penderita saja, tidak
memperhitungkan factor-faktor lain seperti sosio-budaya, ekonomi, umur,
demografi, jenis kelamin, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Persepsi
masyarakat tentang kriteria tubuh sehat atau sakit, sifatnya tidaklah selalu
obyektif. Bahkan lebih banyak unsur subjektif dalam menentukan kondisi tubuh
seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat/sakit ini sangatlah di pengaruhi
oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsure sosial budaya.
Secara ilmiah penyakit di artikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu
organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi
penyakit itu bersifat objektif. Sebaliknya sakit adalah penilaian individu
terhadap pengalaman menderita suatu penyakit fenomena subjektif ini di tandai
dengan perasaan tidak enak. Selama sesorang masih mampu melaksanakan fungsinya
seperti biasa maka orang itu masih di katakan sehat.
Dalam menentukan
reaksi/tindakannya sehubungan dengan gejala penyakit yang dirasakannya, menurut
Suchman individu berproses melalui tahap-tahap berikut ini :
a) Tahap
pengenalan gejala. Pada tahap ini individu memutuskan bahwa dirinya dalam
keadaan sakit yang ditandai dengan rasa tidak enak dan keadaan itu dianggapnya
dapat membahayakan dirinya.
b) Tahap
asumsi peranan sakit. Karena merasa sakit dan memerlukan pengobatan,
individu mulai mencari pengakuan dari kelompok acuannya (keluarga,
tetangga, teman sekerja)tentang sakitnya itu dan kalau perlu meminta pembebasan
dari pemenuhan tugas sehari-harinya.
c) Tahap
kpntak dengan pelayanan kesehatan. Disini individu mulai menghubungi sarana
kesehatan sesuai dengan pengalamannya atau dari informasi yang diperoleh dari
orang lain tentang tersedianya jenis-jenis pelayanan kesehatan.
d) Tahap
ketergantungan si sakit. Individu memutuskan bahwa dirinya, sebagai orang
yang sakit dan ingin disembuhkan, harus menggantungkan diri dan pasrah kepada
prosedur pengobatan. Dia harus mematuhi perintah orang yang akan
menyembuhkannya agar kesembuhan itu cepat terca-pai.
e) Tahap
penyembuhan atau rahabilitasi. Pada tahap ini si sakit memutuskan untuk
melepaskan diri dari peranan sebagai orang sakit. Hal ini terjadi karena dia
sudah sehat kembali dan dapat berfungsi seperti sediakala.
B. Saran
Kita sebagai anggota masyarakat
harus mengubah persepsi kita tentang sehat dan sakit agar mendekati konsep yang
lebih objektif dan menggunakan sarana kesehatan sesuai yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ilmu keperawatan
komunotas /sahid iqbal mubarak dan nurul cahyatin-jakarat:Salemba Medika,2011
Efendy,
Nasrul.1998. dasar – dasar keperawata
kesehatan masyarakat.Jakarta:EGC
Fitramaya yuni,2008
ilmu kesehatan .yogyakarta
Promosi kesehatan
,iqbal-iki.blogspot.com/2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar