Selasa, 29 Januari 2013

ASKEP ANEMIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
Di antara gangguan pada darah, anemia merupakan kejadian yang paling banyak, terutama terjadi pada negara-negara berkembang dan negara miskin. Hal ini sangat berkaitan dengan tingkat konsumsi gizi masyarakat yang tidak tercukupi seperti kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Hal ini merupakan penyebab terbanyak dari anemia. Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya. Komplikasi yang disebabkan oleh anemia beraneka ragam dari yang ringan sampai yang berat sehingga mengakibatkan kematian.
Oleh karena itu anemia merupakan masalah yang perlu penanganan yang cepat dan akurat. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai pengertian, penyebab, bentk gejala , komplikasi , penanganan dan proses keperawatan anemia.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan anemia ?
2.      Apakah yang menyebabkan terjadinya penyakit anemia ?
3.      Bagaimana bentuk tanda dan gejala dari penyakit anemia ?
4.      Apa saja komplikasi yang di sebabkan oleh penyakit anemia ?
5.      Bagaimana bentuk penatalaksanaan pada penyakit anemia ?
6.      Bentuk asuhan keperawtan pada klien dengan penyakit anemia ?


C.    Tujuan
a.      Tujuan umum
Adapun tujuan umum penyusunan makalah ini adalah mendukung kegiatan pembelajaran keperawatan, khususnya mata kuliah system imun dan hematologi II  serta melatih mahasiswa untuk berpikir kritis.

b.      Tujuan khusus
Untuk mengetahui dan memahami tentang definisi, klasifikasi, etiologi, tanda dan gejala, patofisiologi penatalaksanaan medis, serta asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit anemia .
D.    Manfaat
            Mendapatkan pengetahuan tentang system imun dan hematologi II khususnya tentang asuhan keperawatan pada klien dengan anemia sehingga nantinya dapat mengembangkan pengetahuan tersebut dalam praktik keperawatan.

















BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN

Anemia dalah kondisi di mana berkurangnya sel darah merah ( eritrosit ) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh jaringan.

Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar hemoglobin lebih rendah dari batas normal untuk kelompok orang yang bersangkutan ( WHO 1992 )

Anemia secara laboratorik keadaan terjadi penurunan di bawah normal kadar hemoglobin, hitung eritrosit dan hemotokrit ( packed red cell ) ( I Made Bakta, 2003 )

Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.

B.     KLASIFIKASI

Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
1.      Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
a.       Anemia aplastik
Penyebab:
§  agen neoplastik/sitoplastik
§  terapi radiasi
§  antibiotic tertentu
§  obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
§  benzene
§  infeksi virus (khususnya hepatitis)

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang
Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler
|
Gangguan sel induk di sumsum tulang
|
Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai
|
Pansitopenia
|
Anemia aplastik

Gejala-gejala:

§  Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
§  Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
Morfologis: anemia normositik normokromik

b.      Anemia pada penyakit ginjal
Gejala-gejala:
§  Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
§  Hematokrit turun 20-30%
§  Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopoitin



c.       Anemia pada penyakit kronis

Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal).  Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis, tuberkolosis dan berbagai keganasan.

d.      Anemia defisiensi besi
Penyebab:

- Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
- Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
- Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid, dll.)
|
gangguan eritropoesis
|
Absorbsi besi dari usus kurang
|
sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
|
sel darah merah miskin hemoglobin
|
Anemia defisiensi besi

Gejala-gejalanya:
§  Atropi papilla lidah
§  Lidah pucat, merah, meradang
§  Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut. Morfologi: anemia mikrositik hipokromik


e.       Anemia megaloblastik
Penyebab:

- Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
- Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor (aneia rnis st gastrektomi) infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.
|
Sintesis DNA terganggu
|
Gangguan maturasi inti sel darah merah
|
Megaloblas (eritroblas yang besar)
|
Eritrosit immatur dan hipofungsi

2.      Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
§  Pengaruh obat-obatan tertentu
§  Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
§  Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
§  Proses autoimun
§  Reaksi transfuse
§  Malaria

Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit
|
Antigesn pada eritrosit berubah
|
Dianggap benda asing oleh tubuh
|
sel darah merah dihancurkan oleh limposit
|
Anemia hemolisis

C.     ETIOLOGI
Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.
1.      Kelainan genetik
a.       Hemoglobinopati
b.      Thalasemia : kelompok kelainan yang di sebabkan oleh penurunan sintesis rantai globin sehingga mengakibatkan anemia hemolitik. Di mana salah satu klasifikasi talasemia di sebut minor merupakan karier dan penderitanya tidak memperlihatkan gejala ( asimtomatik ).
c.       Abnormal enzim glikolitik
d.      Fanconi anemia ( disfungsi tubulus proksimal ginjal bawaan atau di dapat.
2.      Nutrisi
a.       Defisiensi besi , asam folat dan cobal/ vit B12
Difesiensi besi adalah penyebab anemia paling umum. Defesiensi besi dapat terjadi dari pola makan sehari-hari yang rendah besi. Kurang protein, asam folat, vitamin B12 dari makanan sehari-hari juga memungkinkan terjadinya anemia, mengingat pentingnya unsure-unsur tersebut dalam pembentukan sel-sel darah merah.
b.      Alkoholis , kekurangan nutrisi/ malnutrisi
Pecandu alcohol, perokok, pasien dengan penyakit saluran pencernaan (gastritis, celiac disease atau crohn’s disease), vegetarian ekstrim, orang lanjut usia dan wanita hamil termasuk yang beresiko defisiensi besi, akibat gizi buruk atau kurang gizi atau penyerapan gizi kurang baik.

3.      Perdarahan
a.       Perdarahan hebat
b.      Kecelakaan
c.       Pembedahan
d.      Persalinan
e.       Pecah pembuluh darah
f.       Wasir (hemoroid)
g.      Ulkus peptikum
h.      Perdarahan menstruasi yang sangat banyak
4.      Immunologi
5.      Infeksi
a.       Hepatitis
b.      Chytomegalovirus
c.       Parvovirus
d.      Clostridia
e.       Sepsis gram negative
f.       Malaria
g.      Toksoplasmosis
6.      Obat obatan dan zat kimia
a.       Agen chemoterapi
b.      Anticonvulsant
c.       Antimetabolis
d.      Kontrasepsi
e.       Zat kimia toksik
7.      Trombotik trombositopenia purpura dan syndrome uremik hemolitik
8.      Efek fisik
a.       Trauma
b.      Luka bakar
c.       Gigitan ular
9.      Penyakit kronis dan maligna
a.       Penyakit ginjal, hati
b.      Infeksi kronis
c.       Neoplasma (Kanker atau polip di saluran pencernaan, tumor ginjal atau kandung kemih )

D.    PATOFISIOLOGI

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui.
 Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera.
Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 1998).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar