Senin, 28 Januari 2013

kesehatan jiwa


BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan Jiwa masyarakat ( community mental health ) telah menjadi bagian masalah kesehatan masyarakat (public health) yang dihadapi semua negara. Salah satu pemicu terjadinya berbagai masalah dalam kesehatan jiwa adalah dampak modernisasi dimana tidak semua orang siap untuk menghadapi cepatnya perubahan dan kemajuan teknologi baru. Gangguan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung namun akan menyebabkan penderitanya menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga penderita dan lingkungan masyarakat sekitarnya, Dalam UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal (4) disebutkan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Definisi sehat menurut kesehatan dunia (WHO) adalah suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Maka secara analogi kesehatan jiwa pun bukan hanya sekedar bebas dari gangguan tetapi lebih kepada perasan sehat, sejahtera dan bahagia ( well being ), ada keserasian antara pikiran, perasaan, perilaku, dapat merasakan kebahagiaan dalam sebagian besar kehidupannya serta mampu mengatasi tantangan hidup sehari-hari.
Sejalan dengan paradigma sehat yang dicanangkan Departemen Kesehatan yang lebih menekankan upaya proaktif dan berorientasi pada upaya kesehatan pencegahan (preventif ) dan promotif maka penanganan masalah kesehatan jiwa telah tergeser dari hospital base menjadi community base psychiatric services. Gangguan jiwa dapat dicegah dan diatasi, untuk itu penyelesaiannya tidak hanya oleh tenaga kesehatan, tetapi juga perlu melibatkan peran akif semua pihak. Masyarakat mempunyai potensi untuk mengatasi masalah tersebut sehingga perlu dirubah kesadarannya untuk terlibat dalam upaya preventif dan promotif, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat yang concern terhadap masalah kesehatan jiwa masyarakat.



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian kesehatan jiwa
     Kesehatan adalah keadaaan sejahtera dari fisik, mental dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan). Sedangkan menurut WHO (2005) kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang lengkap dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Dari dua defenisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk dikatakan sehat, seseorang harus berada pada suatu kondisi fisik, mental dan sosial yang bebas dari gangguan, seperti penyakit atau perasaan tertekan yang memungkinkan seseorang tersebut untuk hidup produktif dan mengendalikan stres yang terjadi sehari-hari serta berhubungan sosial secara nyaman dan berkualitas.
     Gangguan kesehatan jiwa bukan seperti penyakit lain yang bisa datang secara tiba-tiba tetapi lebih kearah permasalahan yang terakumulasi dan belum dapat diadaptasi atau terpecahkan. Dengan demikian akibat pasti atau sebab yang melatar belakangi timbulnya suatu gangguan. Pengetahuan dan pengalaman yang cukup dapat membantu seseorang untuk menangkap adanya gejala-gejala tersebut. Semakin dini kita menemukan adanya gangguan maka akan semakin mudah penanganannya. Dengan demikian deteksi dini masalah kesehatan jiwa anak usia sekolah dasar sangat membantu mencegah timbulnya masalah yang lebih berat. Masalah kesehatan jiwa yang sifatnya ringan dapat dilakukan penanganan di sekolah oleh guru atau kerjasama antara guru dan orang tua anak karena penyebab permasalahan dapat berkaitan dengan masalah dalam keluarga yang tidak ingin dibicarakan oleh orang tua, mungkin pula anak mempunyai masalah dengan teman (Noviana, 2010).
Upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah usaha kesehatan jiwa yang di laksanakan di tingkat puskesmassecara khusus atau terintergrasi dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya, yang di laksanakan dengan tenaga kesehatan puskesmas dengan dukungan peran serta masyarakat baik di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas yang di tunjukan individu, keluarga, masyarakat dan terutama di ajukan padamasyarakat berpenghasilan rendah, khususnyan kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya, dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarkat setempat.
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi mental yang sejahtra yang memungkinkan hidup harmonis dan produktf sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia dengan cirri menyadari sepenunya kemampuan dirinya, mampu manghadapi stress kehidupan yang wajar mampu bekerja produtif dan memenuhi kebutuhan hidunya, dapat berperan serta dalam lingkungan hidupnya dapat berperan serta dalam lingkungan hidup, memerima apa yang ada pada dirinya dan merasa nyaman bersama dengan orang lain.

Ciri – ciri sehat jiwa :
a.       bersikap positif terhadap diri sendiri
b.      mampu tumbuh dan berkembang mencapai aktualisasi diri
c.       mampu mengatasi setres atau perubahan pada dirinya
d.      bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakan yang di ambil
e.       mempunyai persepsi yang realistis dan menghargai perasaan serta sikap orang lain
f.       mampu menyesiaukan diri dengan linhkungan


Masalah psikososial yaitu setiap perubahan dalam kehidupan individu baik yang bersikap psikologis atau pun social yang mempunyai pengaruh timbale balik dan dianggap berpotensi cukup besar sebagai factor penyebab terjadinya gangguan jiwa ( gangguan kesahatan) secara nyata, atau sebauiknya masalah kesehatan jiwa yang berdampak pada lingkungan social

Ciri – cirri masalah psikososial adalah :
a.    Cemas dan khawatir bwrlwbihan, takut
b.    mudah tersinggung,
c.    sulit konsentrasi
d.   bersifat ragu – ragu atau merasa rendah diri
e.    merasa kecewa
f.     pemarah dan agresif
g.    reaksi fisik seperta : jantung berdebar, otot tegang
h.    sakit kepala

Gangguan jiwa yaitu suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa yang menimbulkann penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melsksanakan peran social

Ciri – ciri gangguan jiwa :
a.       marah tanpa sebab
b.      mengurunga diri
c.       tidak mengenali orang
d.      bicara kacau
e.       bicara sendiri
f.       tidak mampu merawat diri

B.       Tujuan
Tujuan Kesehatan Jiwa
·         Mencegah timbulnya berbagai gangguan jiwa
·         Menanggulangi masalah kesehatan jiwa
·         Memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan
·         upaya kesehatan jiwa Meminimalkan dampak masalah psikososial dan ganguan jiwa terhadap individu, keluarga dan masyarakat

C.       Indicator
Eksistensi manusia meliputi tiga aspek yaitu organo-biologis ( fisik / jasmani ), psiko-edukatif ( mental-emosional ). Terjadinya gangguan jiwa juga merupakan proses interaksi yang kompleks antara faktor genetik, faktor organo-biologis, faktor psikologis serta faktor sosio-kultural. Telah terbukti bahwa ada korelasi erat antara timbulnya gangguan jiwa dengan kondisi sosial dan lingkungan dimasyarakat sebagai suatu “stessor psikososial”. Kini masalah kesehatan tidak lagi hanya menyangkut soal angka kematian atau kesakitan melainkan juga mencakup berbagai kondisi psikososial yang berdampak pada kualiitas kesehatan masyarat termasuk taraf kesehatan jiwa masyarakat.
Data statistik WHO menyebutkan bahwa setiap saat 1 % dari seluruh penduduk berada dalam kondisi membutuhkan pertolongan dan pengobatan untuk berbagai bentuk gangguan jiwa. Angka kejadian ( relevalensi ) berbagai bentuk gangguan jiwa mulai dari spekrum ringan sampai berat di Asia Selatan dan timur adalah sebesar lebih kurang 25%. Data WHO menunjukan bahwa rata-rata 5-10% dari populasi masyarakat di suatu wilayah menderita depresi dan memerlukan pengobatan psikiatrik dan intervensi psikososial. Untuk kalangan perempuan angka gangguan depresi dijumpai lebih tinggi lagi yaitu berkisar 15-17%. Di masa-masa mendatang bisa jadi kasusnya akan semakin bertambah, penderita gangguan jiwa lama banyak yang kembali kambuh karena mereka tidak kontrol dan tidak minum obat rutin karena tidak mampu beli obat, sedangkan pasien baru bermunculan karena faktor stressor psikososial yang meningkat. Sebagian besar pasien ( 80% ) yang dirawat dibagian jiwa RS umum maupun Rumah Sakit jiwa berasal dari kelompok keluarga miskin (gakin ). Biaya berobat yang harus ditanggung pasien meliputi tidak hanya biaya yang langsung berkaitan dengan pelayanan medik seperti harga obat, jasa konsultasi tetapi juga biaya spesifik lainya seperti biaya transportasi ke rumah sakit dan biaya akomodasi lainya

D.      PROGRAM PENANGANAN MASALAH KESEHATAN JIWA
     Renstra Kemenkes 2010-2014 menjelaskan bahwa visi pembangunan kesehatan. Indonesia antara lain menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas, meningkatkan surveyor, monitor ing dan informasi kesehatan serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Kesehatan jiwa merupakan salah satu arah dari visi kesehatan tersebut. Masalah kesehatan jiwa terutama gangguan jiwa secara tidak langsung dapat menurunkan produktif itas, apalagi jika onset gangguan jiwa dimulai pada usia produktif . Untuk mengant isipasi hal tersebut, maka perlu pelayanan kesehatan jiwa yang komprehensif , holistic, dan paripurna.
Kegiatan dapat dilakukan dengan menggerakkan dan memberdayakan seluruh potensi yang ada di masyarakat, baik warga masyarakat sendiri, tokoh masyarakat, dan profesi kesehatan. Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus memiliki tenaga yang handal agar promosi, prevensi, kurasi, dan rehabilitasi terhadap masyarakat yang mender ita sakit, beresiko sakit, maupun masyarakat yang sehat dapat dilakukan secara menyeluruh, termasuk didalamnya adalah pelayanan kesehatan jiwa. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang ada di puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan keperaw atan secara komprehensif , holistic, kont inyu dan paripurna kepada masyarakat yang mengalami masalah psikososial dan gangguan jiwa di wilayah kerjanya.
Masalah kesehatan jiwa mempunyai lingkup yang sangat luas dan kompleks serta tidak terpisahkan (integral) dari kesehatan terutama dalam menunjan terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Gangguan Jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan dan masih banyak ditemukan di masyarakat demikian juga di kabupaten Pacitan. Masalah gangguan jiwa secara tidak langsung akan menurunkan produktivitas apalagi jika menderita gangguan jiwa dimulai pada usia produkt if selain itu juga menambah beban dari keluarga penderita.
Menurut penelitian WHO beban akibat penyakit gangguan jiwa yang diukur dengan hari-hari produktif yang hilang (DALY / Dissability Adjusted Life years ) disebabkan oleh masalah kesehatan jiw a tahun tahun 2000 sebesar 12,3 % . Berdasar Survey Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) tahun 1995 yang dilakukan oleh Balitbang Depkes menunjukkan bahw a prevalensi gangguan jiwaadalah sebesar 264 per 1000 anggota rumah tangga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar