BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Penyakit Kusta atau Morbus Hansen
adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae yang
secara primer menyerang syaraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa mulut,
saluran nafas bagian atas, sistem retikoloendotel, mata, otot, tulang dan
testis. Kusta menyebar luas ke seluruh dunia, dengan sebagian besar kasus
terdapat di daerah tropis dan subtropis, tetapi dengan adanya perpindaham
penduduk maka penyakit ini bisa menyerang di mana saja. Pada umumnya penyakit
kusta terdapat di negara yang sedang berkembang, dan sebagian besar
penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini sebagai akibat
keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai
di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat.
Hal ini menyebabkan penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat, disamping besarnya masalah di bidang medis juga masalah sosial yang
ditimbulkan oleh penyakit ini memerlukan perhatian yang serius.
Kusta kebanyakan ditemukan di Afrika
Tengan dan Asia Tenggara, dengan angka kejadian di atas 10 per 1.000. hal ini
disebabkan meningkatnya mobilitas penduduk, misalnya imigrasi, pengungsi dan
sebagainya. Sebagaimana yang dilaporkan oleh WHO pada 115 negara dan teritori
pada 2006 dan diterbitkan di Weekly
Epidemiological Record, prevalensi terdaftar kusta pada awal tahun 2006
adalah 219.826 kasus. Penemuan kasus baru pada tahun sebelumnya adalah 296.499
kasus. Alasan jumlah penemuan tahunan lebih tinggi dari prevalensi akhir tahun
dijelaskan dengan adanya fakta bahwa proporsi kasus baru yang terapinya selesai
pada tahun yang sama sehingga tidak lagi dimasukkan ke prevalensi terdaftar.
Penemuan secara global terhadap kasus baru menunjukkan penurunan. Di India
jumlah kasus kira-kira 4 juta, pada tahun 1961 jumlah penderita kusta sebesar
2,5 juta, pada tahun 1971 jumlah penderita 3,2 juta dan tahun 1981 jumlah
penderita 3,9 juta. Kusta juga banyak ditemykan di Amerika Tengah dan Selatan
dengan jumlah kasus yang tercatat lebih dari 5.000 kasus.
Selama tahun 2000 di Indonesia
ditemukan 14.697 penderita baru. Diantaranya 11.267 tipe MB (76,7%) dan 1.499
penderita anak (10,1%). Selama tahun 2001 dan 2002 ditemukan 14.061 dan 14.716
kasus baru. Diantara kasus ini 10.768 dan 11.132 penderita tipe MB (76,6% dan
75,5%). Sedangkan jumlah penderita anak sebanyak 1.423 kasus (10,0%) pada tahun
2001 dan 1.305 kasus (8,9%) pada tahun 2002. Di tingkat propinsi, Jawa Timur
paling banyak menemukan penderita baru yaitu 3.785 kasus pada tahun 2001 dan
4.391 pada tahun 2002. Propinsi yang paling sedikit menemukan kasus baru adalah
propinsi adalah Bengkulu, yaitu 8 kasus pada tahun 2001 dan 4 kasus pada tahun
2002.
Permasalahan penyakit kusta bila dikaji
secara mendalam merupakan permasalahan yang sangat kompleks bukan hanya dari
segi medis tetapi juga menyangkut masalah sosial ekonomi, budaya dan ketahanan
Nasional. Dalam keadaan ini warga masyarakat berupaya menghindari penderita.
Sebagai akibat dari masalah-masalah tersebut akan mempunyai efek atau pengaruh
terhadap kehidupan bangsa dan negara, karena masalah-masalah tersebut dapat
mengakibatkan penderita kusta menjadi tuna sosial, tuna wisma, tuna karya dan
ada kemungkinan mengarah untuk melakukan kejahatan atau gangguan di lingkungan
masyarakat. Hal ini disebabkan rasa takut, malu dan isolasi sosial berkaitan
dengan penyakit ini. Laporan tentang kusta lebih kecil daripada sebenarnya, dan
beberapa negara enggan untuk melaporkan angka kejadian penderita kusta sehingga
jumlah yang sebenarnya tidak diketahui. Melihat besarnya manifestasi penyakit
ini maka perlu dilakukan suatu langkah penanggulangan penyakit tersebut.
Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk mencegah terjadinya
penyakit, menurunkan angka kesakitan dan angka kematian serta mencegah akibat
buruk lebih lanjut sehingga memungkinkan tidak lagi menjadi masalah kesehatan
masyarakat. Masalah yang dimaksud bukan saja dari segi medis tetapi meluas
sampai masalah sosial ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan sosial.
Berdasarkan dari fenomena diatas
maka kami mengangkat masalah upaya penanggulangan penyakit kusta sebagai judul
makalah dengan harapan dapat lebih memahami penyakit kusta dan
penanggulangannya.
B.
Tujuan
Penulisan makalah ini diharapkan
dapat mencapai beberapa tujuan dalam memahami upaya penanggulangan penyakit
kusta, yakni sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui gambaran umum
penyakit kusta yang meliputi definisi , sejarah dan epidemiologi penyakit kusta
2. Untuk mengetahui apa saja
bentuk-bentuk dan gejala penyakit kusta
3. Untuk mengetahui bagaimana transimi
penularan penyakit kusta
4. Untuk mengetahui penegakan diagnosis
penyakit kusta
5. Untuk mengetahui bagaimana
penanggulangan penyakit kusta
6. Untuk mengetahui bagaimana upaya
pencegahan penyakit kusta
C.
Rumusan
Masalah
Dalam makalah ini kami mengangkat
beberapa permasalahan yang terkait dengan Penanggulangan penyakit kusta, yaitu
sebagai berikut :
1. Bagaimana gambaran umum penyakit
kusta ?
2. Apa saja bentuk-bentuk dan gejala
penyakit kusta ?
3. Bagaimana transimi penularan
penyakit kusta ?
4. Bagaimana penegakan diagnosis
penyakit kusta ?
5. Bagaimana penanggulangan penyakit
kusta ?
6. Bagaimana upaya pencegahan penyakit
kusta ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Penyakit Kusta
Istilah kusta berasal dari bahasa
sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum.
Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan
kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini
disebut Morbus Hansen.
Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan
atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta
dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota
gerak, dan mata. Tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, kusta
tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada
penyakit tzaraath, yang digambarkan dan sering disamakan dengan kusta.
Kusta merupakan penyakit menahun
yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka
panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya
rendah. Waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya
kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa knak-kanak. Tanda-tanda
seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit mengalami bercak putih,
merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan
atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi. Gejalanya
memang tidak selalu tampak. Justru sebaiknya waspada jika ada anggota keluarga
yang menderita luka tak kunjung sembuh dalam jangka waktu lama. Juga bila luka
ditekan dengan jari tidak terasa sakit.
Kelompok yang berisiko tinggi
terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk
seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi
yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan
sistem imun.
B. Sejarah
Konon, kusta telah menyerang manusia
sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuno, Mesir kuno, dan India. Pada 1995, Penyakit kusta atau lepra menjadi salah satu penyakit
tertua yang hingga kini awet bertahan di dunia. Dari catatan yang ditemukan di
India, penderita kusta sudah ditemukan sejak tahun 600 Sebelum Masehi. Dalam
buku City of Joy (Negeri Bahagia) karya Dominique, mantan reporter untuk
sejumlah penerbitan di Prancis pada dekade 1960-an hingga 1970-an, kusta
menjadi penyakit yang 'populer' dan menjadi bagian dari kehidupan miskin di
Calcutta, India. Namun, kuman penyebab kusta kali pertama baru ditemukan pada
tahun 1873 oleh Armauer Hansen di Norwegia.Karena itu penyakit ini juga sering
disebut penyakit Hansen. Saat ini penyakit kusta banyak terdapat di Benua
Afrika, Asia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
Menurut sejarah pemberantasan
penyakit kusta di dunia dapat kita bagi dalam 3 (tiga) zaman yaitu zaman
purbakala, zaman pertengahan dan zaman moderen. Pada zaman purbakala karena
belum ditemukan obat yang sesuai untuk pengobatan penderita kusta, maka
penderita tersebut telah terjadi pengasingan secara spontan karena penderita
merasa rendah diri dan malu, disamping itu masyarakat menjauhi mereka karena
merasa jijik. Pada zaman pertengan penderita kusta diasingkan lebih ketat dan
dipaksa tinggal di Leprosaria/koloni perkampungan penderita kusta seumur hidup.
1. Zaman Purbakala.
Penyakit kusta dikenal hampir 2000
tahun SM. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan sejarah seperti di Mesir, di
India 1400 SM, istilah kusta yang sudah dikenal didalam kitab Weda, di Tiongkok
600 SM, di Nesopotamia 400 SM. Pada zaman purbakala tersebut telah terjadi
pengasingan secara spontan penderita merasa rendah diri dan malu, disamping
masyarakat menjauhi penderita karena merasa jijik dan takut.
2. Zaman Pertengahan.
Kira-kira setelah abad ke 13 dengan
adanya keteraturan ketatanegaraan dan system feodal yang berlaku di Eropa
mengakibatkan masyarakat sangat patuh dan takut terhadap penguasa dan hak azasi
manusia tidak mendapat perhatian. Demikian pula yang terjadi pada penderita
kusta yang umumnya merupakan rakyat biasa. Pada waktu itu penyebab penyakit dan
obat-obatan belum ditemukan maka penderita kusta diasingkan lebih ketat dan
dipaksakan tinggal di Leprosaria/Koloni Perkampungan penderita kusta untuk
seumur hidup.
3. Zaman Modern.
Dengan ditemukannya kuman kusta oleh
G.H. Hansen pada tahun 1873, maka mulailah era perkembangan baru untuk mencari
obat anti kusta dan usaha penanggulangannya. Pengobatan yang efektif terhadap
penyakit kusta ditemukan pada akir 1940-an dengan diperkenalkannya dapson dan derivatnya. Bagaimanapun juga, bakteri penyebab lepra
secara bertahap menjadi kebal terhadap dapson dan menjadi kian menyebar. Hal
ini terjadi hingga ditemukannya pengobatan multiobat pada awal 1980-an dan penyakit ini pun mampu ditangani kembali.
Demikian halnya di Indonesia dr. Sitanala telah mempelopori
perubahan sistem pengobatan yang tadinya dilakukan secara isolasi, secara
bertahap dilakukan dengan pengobatan jalan. Perkembangan pengobatan selanjutnya
adalah sebagai berikut :
a. Pada tahun 1951 dipergunakan DDS
sebagai pengobatan penderita kusta.
b. Pada tahun 1969 pemberantasan
penyakit kusta mulai diintegrasikan di puskesmas.
c. Sejak tahun 1982 Indonesia mulai
menggunakan obat Kombinasi Multidrug Therapy (MDT) sesuai dengan rekomendasi
WHO
C. Penyebab penyakit Kusta
Penyakit kusta
disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai microbakterium, dimana
microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang
yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi
oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan
asam”. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan organism
patogen (misalnya Microbacterium tubercolose, mycrobakterium leprae) yang
menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion.
D. Epidemiologi
Penyakit Kusta
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
a) Melalui sekret hidung, basil yang
berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat
hidup 2–7 x 24 jam.
b) Kontak kulit dengan kulit.
Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi
baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan
berulang-ulang.
Klinis ternyata kontak lama dan
berulang-ulang ini bukanlah merupakan faktor yang penting. Banyak hal-hal yang
tidak dapat di terangkan mengenai penularan ini sesuai dengan hukum-hukum
penularan seperti halnya penyakit-penyakit terinfeksi lainnya. Menurut Cocrane
(1959), terlalu sedikit orang yang tertular penyakit kusta secara kontak kulit
dengan kasus-kasus lepra terbuka. Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan
bahwa penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal
yakni jumlah atau keganasan Mocrobakterillm Leprae dan daya tahan tubuh
penderita. Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah
:
v Usia : Anak-anak lebih peka dari
pada orang dewasa
v Jenis kelamin : Laki-laki lebih
banyak dijangkiti
v Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih
banyak dijangkiti
v Kesadaran sosial :Umumnya
negara-negara endemis kusta adalah negara
dengan tingkat sosial ekonomi rendah
dengan tingkat sosial ekonomi rendah
v Lingkungan : Fisik, biologi, sosial,
yang kurang sehat
E. Tanda dan Gejala penyakit Kusta
Tanda-tanda penyakit kusta
bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut. Di
dalam tulisan ini hanya akan disajikan tanda-tanda secara umum tidak terlampau
mendetail, agar dikenal oleh masyarakat awam, yaitu:
v Adanya
bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia.
v Pada
bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin
melebar dan banyak.
melebar dan banyak.
v Adanya
pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus
seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis
dan mengkilat.
v Adanya
bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yarig tersebar pada kulit.
v Alis
rambut rontok
v Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut
facies leomina (muka singa)
Gejala-gejala umum pada lepra, reaksi :
Gejala-gejala umum pada lepra, reaksi :
v Panas
dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil.
v Anoreksia.
v Nausea,
kadang-kadang disertai vomitus.
v Cephalgia.
v Kadang-kadang
disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis.
v Kadang-kadang
disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali.
v Neuritis.
F. Pathogenesis
Meskipun cara masuk M.leprae
ke dalam tubuh masih belum diketahui dengan pasti, beberapa penelitian telah
memperlihatkan bahwa tersering ialah melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh
yang bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal. Pengaruh M. leprae
terhadap kulit bergantung pada faktor imunitas seseorang, kemampuan hidup M.leprae
pada suhu tubuh yang rendah, waktu regenerasi yang lama, serta sifat kuman yang
avirulen dan nontoksis.
M.leprae merupakan parasit obligat
intraseluler yang terutama terdapat pada sel makrofag di sekitar pembuluh darah
superfisial pada dermis atau sel Schwan di jaringan saraf. Bila kuman M.leprae
masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal
dari sel monosit darah, sel mononuklear, histiosit) untuk memfagositnya.
Pada kusta tipe LL terjadi
kelumpuhan sistem imunitas selular, dengan demikian makrofag tidak mampu
menghancurkan kuman sehingga kuman dapat bermultiplikasi dengan bebas, yang
kemudian dapat merusak jaringan.
Pada kusta tipe TT kemampuan fungsi
sistem imunitas selular tinggi, sehingga makrofag sanggup menghancurkan kuman.
Sayangnya setelah semua kuman di fagositosis, makrofag akan berubah menjadi sel
epiteloid yang tidak bergerak aktif dan kadang-kadang bersatu membentuk sel
datia langhans. Bila infeksi ini tidak segera di atasi akan terjadi reaksi
berlebihan dan masa epiteloid akan menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan
disekitarnya.
Sel Schwan merupakan sel target
untuk pertumbuhan M.lepare, disamping itu sel Schwan berfungsi sebagai
demielinisasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Jadi, bila
terjadi gangguan imunitas tubuh dalm sel Schwan, kuman dapat bermigrasi dan
beraktivasi. Akibatnya aktivitas regenerasi saraf berkurang dan terjadi
kerusakan saraf yang progresif.
G.
Cara penularan
Meskipun cara penularannya yang
pasti belum diketahui dengan jelas penularan di dalam rumah tangga dan
kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam
penularan. Berjuta-juta basil dikeluarkan melalui lendir hidung pada penderita
kusta tipe lepromatosa yang tidak diobati, dan basil terbukti dapat hidup
selama 7 hari pada lendir hidung yang kering. Ulkus kulit pada penderita kusta
lepromatusa dapat menjadi sumber penyebar basil. Organisme kemungkinann masuk
melalui saluran pernafasan atas dan juga melalui kulit yang terluka. Pada kasus
anak-anak dibawah umur satu tahun, penularannya diduga melalui plasenta.
Dua pintu keluar dari M. leprae
dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung. Telah
dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit. Bagaimanapun masih belum dapat dibuktikan bahwa
organisme tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit. Walaupun terdapat
laporan bahwa ditemukanya bakteri tahan asam di epitel deskuamosa di kulit, Weddel et al melaporkan
bahwa mereka tidak menemukan bakteri tahan asam di epidermis. Dalam penelitian terbaru, Job et
al menemukan adanya sejumlah M. leprae yang besar di lapisan keratin superfisial kulit di penderita kusta
lepromatosa. Hal ini membentuk sebuah pendugaan bahwa organisme tersebut dapat
keluar melalui kelenjar keringat. Pentingnya mukosa hidung telah
dikemukakan oleh Schäffer pada 1898. Jumlah dari bakteri dari lesi
mukosa hidung di kusta lepromatosa, menurut Shepard, antara 10.000 hingga
10.000.000 bakteri. Pedley melaporkan bahwa sebagian besar pasien lepromatosa
memperlihatkan adanya bakteri di sekret hidung mereka. Davey dan Rees
mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi
10.000.000 organisme per hari.
Cara-cara penularan penyakit kusta
sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar
kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada
yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
1) Melalui sekret hidung, basil yang
berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat
hidup 2–7 x 24 jam.
2) Kontak kulit dengan kulit.
Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi
baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan
berulang-ulang.
Penyakit kusta dapat ditularkan dari
penderita kusta tipe multi basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan
langsung. Penularan yang pasti belum diketahui, tapi sebagian besar para ahli
berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernapasan
dan kulit. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu
ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain :
v Faktor sumber penularan
Adalah
penderita kusta tipe MB. Penderita Multi Basiler ini pun tidak akan menularkan
kusta apabila berobat teratur.
v Faktor kuman kusta
Kuman
kusta dapat hidup di luar tubuh manusia antara 1-9 hari tergantung pada suhu
dan cuaca dan diketahui kuman kusta yang utuh yang dapat menimbulkan penularan.
v Faktor daya tahan tubuh
Sebagian
besar manusia kebal terhadap penyakit kusta. Dari hasil penelitian menunjukkan
gambar sebagai berikut dari 100 orang yang terpapar, 95 orang tidak menjadi
sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat, 2 orang menjadi sakit, hal ini belum
lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. Tidak semua orang yang terinfeksi
oleh kuman M. leprae menderita kusta, dan diduga faktor genetika juga
ikut berperan, setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit
kusta di keluarga tertentu. Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe
kusta yang berbeda pada setiap individu. Faktor ketidakcukupan gizi juga diduga
merupakan faktor penyebab.
Masa inkubasi pasti dari kusta belum dapat
dikemukakan. Beberapa peneliti berusaha mengukur masa inkubasinya. Masa
inkubasi minimum dilaporkan adalah beberapa minggu, berdasarkan adanya kasus
kusta pada bayi muda. Masa inkubasi maksimum dilaporkan selama 30 tahun Hal ini
dilaporan berdasarkan pengamatan pada veteran perang yang pernah terekspos di daerah endemik dan kemudian
berpindah ke daerah non-endemik. Dengan rata-rata adalah 4 tahun untuk kusta
tuberkuloid dan dua kali lebih lama untuk kusta lepromatosa. Penyakit ini
jarang sekali ditemukan pada anak-anak dibawah usia 3 tahun; meskipun, lebih
dari 50 kasus telah ditemukan pada anak-anak dibawah usia 1 tahun, yang paling
muda adalah usia 2,5 bulan. Secara umum, telah disetujui, bahwa masa inkubasi
rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun.
I.
Kerentanan dan kekebalan
Kelangsungan dan tipe penyakit kusta
sangat tergantung pada kemampuan tubuh untuk membentuk “cell mediated“ kekebalan
secara efektif. Tes lepromin adalah prosedur penyuntikan M. Leprae yang
telah mati kedalam kulit; ada tidaknya indurasi dalam 28 hari setelah
penyuntikan disebut dengan reaksi Mitsuda. Reaksi Mitsuda negatif pada kusta
jenis lepromatosa dan positif pada kusta tipe tuberkuloid, pada orang dewasa
normal. Karena tes ini hanya mempunyai nilai diagnosis yang terbatas dan
sebagai pertanda adanya imunitas. Komite Ahli Kusta di WHO menganjurkan agar penggunaan
tes lepromin terbatas hanya untuk tujuan penelitian. Angka hasil tes yang
positif akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Sebagai tambahan
tingginya prevalensi transformasi limfosit yang spesifik terhadap M. leprae dan
terbentuknya antibodi spesifik terhadap M. leprae diantara orang yang
kontak dengan penderita kusta menandakan bahwa penularan sudah sering terjadi
walaupun hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menunjukan gejala klinis
penyakit kusta. Pola klinis penyakit ini ditentukan oleh respons imunitas yang
diperantarai sel (cell-mediated imunity) host terhadap organisme. Bila
respons imunitasnya baik, maka timbul lepra tuberkuloid, dimana kulit dan
saraf-saraf perifer terkena. Lesi kulit berbentuk tunggal. Atau hanya beberapa,
dan berbatas tegas. Bentuknya verupa makula atau plak dengan hipopigmentasi
pada kulit yang gelap. Terdapat anestesi pada lesi, hilangnya keringat, dan
berkurangnya jumlah rambut. Penebalan cabang-cabang saraf kulit dapat diraba
pada daerah lesi tersebut, dan saraf perifer yang besar juga dapat diraba. Tes
lepromin positif kuat. Gambaran histologis berupa granuloma tuberkoloid yang
jelas, dan tidak ditemukan adanya basil pada pewarnaan Ziehl-Nielsen yang
dimodifikasi. Bila respons imunitas selulernya rendah, maka multiplikasi kuman
menjadi tak terkendali dan timbul bentuk lepralepromatosa. Kuman menyebar tidak
hanya pada kulit, tetapi juga mukosa saluran respirasi, mata, testis, dan
tulang. Lesi kulit berbentuk multipel dan nodular. Tes lepromin negatif. Pada pemeriksaan
histologi berupa granuloma yang difus pada dermis, dan ditemukan basil dalam
jumlah yang banyak.
Di
antara kedua bentuk lepra yang ekstrem tadi, terdapat spektrum penyakit ini
yang disebut dengan lepra borderline, di mana gambaran klinis dan histrologisnya
menggambarkan berbagai derajat respons imunitas seluler terhadap kuman. Tidak
ada tes diagnostik lepra yang absolut, yaitu diagnosis yang berdasrakan pada
gambaran klinis dan histologis. Lepra tuberkoloid biasa diobati dengan
kombinasi dapson dan rifampisin selama 6 bulan, sementara lepra lepromatosa
dapat diobati dengan dapson, rifampisin dan klofazimin paling tidak selama 24
bulan. Pengobatan lepra mungkin dipersulit dengan adanya reaksi kusta yang
dipengaruhi oleh imunitas, dan harus diamati oleh seseorang yang berpengalaman
dalam hal penanganan lepra
J. Penanggulangan Penyakit Kusta
Penanggulangan penyakit kusta telah
banyak didengar dimana-mana dengan maksud mengembalikan penderita kusta menjadi
manusia yang berguna, mandiri, produktif dan percaya diri. Metode
penanggulangan ini terdiri dari : metode pemberantasan dan pengobatan, metode
rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial,
rehabilitasi karya dan metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari
rehabilitasi, dimana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada
kelompok tersendiri. Ketiga metode tersebut merupakan suatu sistem yang saling
berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Di Indonesia, tujuan program
pemberantasan penyakit kuista adalah menurunkan angka prevalensi penyakit
kustra menjadi 0,3 per 1000 penduduk pada tahun 2000. Upaya yang dilakukan
untuk pemberantasan penyakit kusta melalui :
a) Penemuan penderita secara dini.
b) Pengobatan penderita.
c) Penyuluhan kesehatan di bidang kusta.
d) Peningkatan ketrampilan petugas
kesehatan di bidang kusta.
e) Rehabilitasi penderita kusta.
K. Upaya Pencegahan Penyakit Kusta
Hingga saat ini tidak ada vaksinasi
untuk penyakit kusta. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang
masih utuh bentuknya, lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan
dibandingkan dengan yang tidak utuh. Jadi faktor pengobatan adalah amat penting
dimana kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat dicegah. Disini letak
salah satu peranan penyuluhan kesehatan kepada penderita untuk menganjurkan
kepada penderita untuk berobat secara teratur. Pengobatan kepada penderita
kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman
kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat
sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia
tersebut. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi dalam hal ini
pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya
tempat-tempat yang lembab. Ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit
kusta. Tetapi kita tidak dapat menyembuhkan kasus-kasus kusta kecuali
masyarakat mengetahui ada obat penyembuh kusta, dan mereka datang ke Puskesmas
untuk diobati. Dengan demikian penting sekali agar petugas kusta memberikan
penyuluhan kusta kepada setiap orang, materi penyuluhan kusta kepada setiap
orang, materi penyuluhan berisikan pengajaran bahwa :
v Ada obat yang dapat menyembuhkan
penyakit kusta
v Sekurang-kurangnya 80 % dari semua
orang tidak mungkin terkena kusta
v Enam dari tujuh kasus kusta tidaklah
menular pada orang lain
v Kasus-kasus menular tidak akan
menular setelah diobati kira-kira 6 bulan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada
makalah yang kami buat, dapat di simpulkan sebagai berikut :
Kusta merupakan penyakit menahun
yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka
panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya.
Klasifikasi bentuk-bentuk penyakit
kusta yang banyak dipakai dalam bidang penelitian adalah klasifikasi menurut
Ridley dan Jopling yang mengelompokkan penyakit kusta menjadi 5 kelompok
berdasarkan gambaran klinis, bakteriologis, histopatologis dan imunologis.
Sekarang klasifikasi ini juga secara luas dipakai di klinik dan untuk
pemberantasan yaitu tipe tuberkoloid (TT), tipe borderline tubercoloid (BT),
Tipe mid borderline (BB), Tipe borderline lepromatosa, tipe lepromatosa (LL)
Tanda-tanda penyakit kusta
bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut. Di
dalam tulisan ini hanya akan disajikan tanda-tanda secara umum tidak terlampau
mendetail, agar dikenal oleh masyarakat awam, yaitu :
Ø Adanya bercak tipis seperti panu
pada badan/tubuh manusia
Ø Pada bercak putih ini pertamanya
hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.
Ø Adanya pelebaran syaraf terutama
pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus.
Ø Kelenjar keringat kurang kerja
sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
Ø Adanya bintil-bintil kemerahan
(leproma, nodul) yarig tersebar pada kulit
Ø Alis rambut rontok
Ø Muka berbenjol-benjol dan tegang
yang disebut facies leomina (muka singa)
Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium
leprae. Dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk
spora, berbentuk batang, dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium, berukuran panjang 1 – 8 micro, lebar 0,2 – 0,5 micro
biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel dan
bersifat tahan asam (BTA) atau gram positif,tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan
terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan
sebagai basil “tahan asam”.
Penyakit kusta dapat ditularkan dari
penderita kusta tipe multi basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan
langsung. Penularan yang pasti belum diketahui, tapi sebagian besar para ahli
berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernapasan
dan kulit.
Masa inkubasi minimum dilaporkan
adalah beberapa minggu, berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi muda. Masa
inkubasi maksimum dilaporkan selama 30 tahun. Secara umum, telah disetujui,
bahwa masa inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun.
Metode penanggulangan ini terdiri
dari : metode pemberantasan dan pengobatan, metode rehabilitasi yang terdiri
dari rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, rehabilitasi karya dan metode
pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi, dimana penderita
dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok tersendiri..
B. Saran
Berdasarkan fenomena dari makalah di
atas, beberapa saran yang dapat kami berikan sebagai berikut :
1. Agar pemerintah lebih
meningkatkan upaya penyuluhan mengenai penyakit menular khususnya penyakit
kusta.
2. Agar tugas pembuatan makalah
seperti ini lebih sering diberikan agar dapat menambah pengetahuan bagi
mahasiswa dan pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Daili,
dkk. 1998. Kusta. UI PRES. Jakarta.
Djuanda,
Edwin. 1990. Rahasia Kulit Anda. FKUI. Jakarta.
Graham,
Robin. 2002. Lecture Notes Dermatologi. Erlangga. Jakarta.
Melniek,
dkk. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Unair. Surabaya.
Nadesul, Hendrawan. 1995. Bagaimana
Kalau Terkena Penyakit Kulit. Puspa Swara. Jakarta.
terima kasih makalahnya sangat bermanfaat sekali ..
BalasHapusoya untuk artikel yang membahas mengenai artikel rehabilitas kusta mungkin bisa juga baca2 disini ..
http://www.tanyadok.com/kesehatan/rehabilitasi-untuk-penderita-kusta